HISTORY

Pu Hua History

SEKILAS TENTANG SEJARAH PU HUA SCHOOL

 

Jika kita berfikir satu tahun ke depan, taburlah benih. Jika kita berfikir sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon. Namun jika kita berfikir seratus tahun ke depan, didiklah rakyat.

(Kuan-zi)

 

Mengikuti apa yang dikatakan Kuan-zi, kita semua meyakini bahwa pendidikan adalah tindakan mulia yang harus selalu ada. Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara (1913-1967), seorang religius dan pendidik Indonesia, mengatakan bahwa pendidikan adalah tindakan manusia memanusiakan manusia muda. Maksudnya dengan pendidikanlah seseorang mampu menjadi manusia yang purna, homo yang human, manusia berbudaya. Tindakan ini pertama-tama menjadi tanggungjawab orangtua karena dalam keluargalah untuk pertama kali tersedia kesempatan bagi anak untuk hidup, berkembang dan berperan. Demi masa depan generasi muda, orangtua memohon bantuan kepada sekolah untuk mendidik putra-putrinya. David Emile Durkheim (1858-1917), seorang peneliti yang masyur, mengatakan bahwa sekolah adalah tempat pendidikan (moral) yang tepat, “sekolah merupakan perantara yang paling cocok antara keadaan moral anak saat meninggalkan keluarga dan keadaan moral yang harus diusahakan”.

Pu Hua School atau kita kenal dengan nama Sekolah Nasional 3 Bahasa Putera Harapan mengambil tanggal 30 April sebagai hari jadi. Dari waktu berdirinya hingga kini menjadi salah satu sekolah berkualitas, Pu Hua telah melewati masa yang panjang. Pada tahun 1850 seorang perantauan asal Negeri Tiongkok Bagian selatan bernama Tan Swie Sing menetap di Purwokerto. Pribadi yang tulus dan semangat yang besar dalam mengajar bahasa bagi anak-anak Tionghua, membuat banyak orang memanggilnya dengan sebutan “shi ye”.

Tan Hay Siang anak tertua Tan Swie Sing meneruskan semangat ayahnya dengan membangun sekolah dengan tiga kelas di Sokaraja. Pada tahun 1905-1906 Kho Han Lie menyumbangkan tanahnya untuk dijadikan sekolah. Sehingga pada tanggal 6 februari 1906 berdirilah “SEKOLAH TIONG HOA HWEE KWAN”, yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah  Putera Harapan.

Pendidikan di “SEKOLAH TIONG HOA HWEE KWAN-Sekolah THHK” terus berlanjut. Hingga pada tahun 1947 mulai diselenggarakan pendidikan bagi siswa SMP di Sekolah THHK. Di tahun yang sama, secara resmi sekolah menamakan diri sebagai “Sekolah Tionghoa Purwokerto – Pu Hua”. Pada tahun 1949 SMP Sekolah Tionghoa Purwokerti berhasil meluluskan siswa angkatan pertama.

Keadaan sekolah tionghoa di Purwokerto yang semakin bersinar tidak dibarengi dengan siutasi tanggapan pemerintah tentang sekolah tionghoa. Pada tahun 1957 dibuat keputusan oleh pemerintah untuk melarang sekolah Tionghoa menerima murid dari Warga Negara Indonesia (WNI). Selain itu, guru-guru WNI juga tidak diijinkan mengajar di Pu Hua. Belum berkehenti di situ. Pada tahun 1958 Sekolah Tionghoa Purwokerto dinasionalisasikan dan dibagi menjadi dua bagian. Satu sekolah untuk Warga Negara Asing (WNA) dan satu lagi untuk siswa WNI menjadi sekolah nasional.

Angin segar mulai ada sekitar tahun 1959 sekolah SD dan SMP Pu Hua memakai gedung sekolah yang baru. Selain itu, banyak murid dari beberapa tempat di sekitar Purwokerto juga menyekolahkan anaknya di Pu Hua. Pada tahun 1963 Pu Hua mengajukan pembukaan sekolah SMA namun hingga tanggal 30 April 1066 semua sekolah Pu Hua ditutup. Sejak saat itu para murid Pu Hua tidak lagi mempunyai sekolah, mereka tidak lagi bisa mengenyam pendidikan Bahasa Mandarin. Para guru pun tidak lagi mempunyai pekerjaan, sehingga para guru mengalami kesulitan ekonomi. Pada masa orde baru, keadaan sekolah Tionghoa juga tidak mengalami perkembangan. Bahkan ada indikasi adanya politik anti Tionghoa. Bisa dirasakan oleh orang Tionghoa di Purwokerto adanya tekanan dan paksaan terhadap mereka untuk tidak lagi belajar bahasa Mandarin.

Masa itu, pengajaran Bahasa Mandarin di Pu Hua tetap dijalankan secara sembunyi sembunyi. Pada saat itu para siswa yang dulu belajar di Puhua bergabung menyatukan semangat belajar untuk Bahasa Mandarin, mereka secara terpisah mengadakan pembelajar Bahasa Mandarin di rumah. Siswa dengan tingkat kemampuan yang lebih tinggi mengajar teman-teman yang kemampuannya masih kurang. Pembelajaran seperti ini terus dijalankan dan bertahan hingga tahun 70’an.

Pada tahun 1988 diadakanlah reuni pertama bagi alumnus Sekolah Tionghoa Purwokerto. Kegiatan ini disebut sebagai “konferensi persahabatan Tionghoa pertama”. Pada tahun 1992 di selenggarakan konfrensi persahabatan Tionghua yang ke dua, dengan tema “ menyambut acara natal dan tahun baru 1992” yang dihadiri oleh 49 guru PUHUA dan ratusan murid. Pada tahun 1996 didirikanlah “Paguyuban Pengusaha Banyumas” dan satu tahun kemudian pada tanggal 3 Desember 1997 didirikanlah Yayasan Putera Harapan Purwokerto.

Perkembangan Pu Hua terus berlanjut, hingga akhirnya pada tahun 2000 mulai dibangunlah gedung Yayasan Putera Harapan Purwokerto. Satu tahun kemudian, pada tahun 2001 diselenggarakanlah kursus bahasa Mandarin oleh LPK Yayasan Putera Harapan Purwokerto. Sebagai bentuk syukur kepada mantan Guru Sekolah Tionghoa Purwokerto pada bulan Agustus di tahun yang sama mereka dibiayai kegiatan “Beijing Tour”. Tahun 2003 diselenggarakanlah TK Nasional Putera Harapan Purwokerto. Satu tahun kemudian Yayasan Putera Harapan Purwokerto mendukung Universitas Jendral Soedirman menyelenggarakan Program D3 bahasa Mandarin. Tanggal 30 April 2006 peletakan batu pertama pembangunan gedung Sekolah Nasional 3 Bahasa Putera Harapan. Perkembangan sekolah terus berlanjut hingga kini.

Sejak pertama berdiri, Pu Hua School merupakan sekolah nasional dengan pengantar 3 bahasa yang pertama berdiri di Purwokerto. Proses pembelajaran bahasa di Pu Hua dengan membekali siswa dengan ilmu lain dan dengan pembentukan kepribadian dan mental supaya menjadi pribadi yang baik, lembut, dan berbudi luhur. Dengan motto “rajin, tulus, bersahaja, tekun”, kami ingin mewujudkan Pu Hua menjadi sekolah yang dikenal masyarakat luas dan mampu menghasilkan peserta didik yang berkualitas tinggi.