Kelas Pelatihan Shu Fa dan Guo Hua untuk Orang Tua Siswa Puhua

Banyumas—Pameran Kaligrafi Puhua tak hanya memukau mata, tetapi juga menghangatkan hati sebagai ruang belajar bersama bagi seluruh keluarga besar Puhua School. Selama 25–27 November 2025, aula KBTK–SD berubah menjadi tempat perjumpaan budaya, di mana siswa, orang tua, hingga masyarakat luas termasuk mahasiswa Unsoed dan UIN Saizu dapat menikmati 215 karya kaligrafi dan lukisan Tiongkok–Indonesia dalam suasana akrab.
Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Mandarin Puhua untuk merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok, pameran ini menghadirkan bukan hanya karya seni, tetapi juga interaksi intelektual. Orang tua tidak sekadar datang sebagai penonton; mereka ikut duduk di kelas pelatihan Shu Fa dan Guo Hua, belajar langsung dari dua maestro Tiongkok, Prof. Wang Liquan, Dekan Kaligrafi Baoding University dan Prof. Chen Xiaoying, yang membimbing setiap guratan kuas dengan sabar.

(Foto Bersama Para Orang Tua dan Profesor dari Tianjin(tengah) dan juga direktur PBM)
Momen ketika orang tua dan anak belajar di ruang yang sama menghadirkan pesan penting: seni dapat menjadi jembatan lintas generasi. Di Puhua, pameran ini memperkuat keyakinan bahwa pendidikan terbaik lahir ketika rumah dan sekolah saling menyatu, orang tua, guru, dan siswa bersama-sama mengalami, berdialog, dan bertumbuh dalam satu ekosistem belajar yang kolaboratif.
Melalui guratan 书法 dan lukisan 国画, wali murid Puhua bukan hanya mengenal keindahan estetika, tetapi juga menyerap nilai harmoni dalam keberagaman, persahabatan dua bangsa, dan semangat juara yang menjadi ciri khas Puhua School. Inilah wajah Puhua hari ini: sekolah yang menjadikan seni sebagai bahasa universal untuk menyiapkan generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan terbuka pada dunia.
Puhua Jiayou!






