Winter Camp SMP-SMA Puhua 2025:
Menyelami Bahasa, Budaya, dan Sejarah Tiongkok
Pada 13–27 Desember 2025, siswa-siswi SMP–SMA Puhua mengikuti Winter Camp ke Baoding dan Beijing, Tiongkok, yang dirancang bukan sekadar untuk berwisata, tetapi untuk benar-benar menyelami kehidupan, bahasa, dan budaya setempat. Di Baoding, para siswa mempelajari Bahasa Mandarin secara lebih mendalam di Baoding University; di bawah bimbingan para laoshi, mereka tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga mempraktikkan bahasa dalam kegiatan seni dan budaya.
Mereka belajar memainkan alat musik tradisional seperti pipa dan dizi, menulis kaligrafi shufa, serta berkreasi mencetak motif dari bunga dan daun pada tote bag yang dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Para siswa juga membuat kerajinan tembikar di tempat pembuatan porselen dan menjelajahi sejarah alam melalui koleksi fosil dinosaurus di museum.
Interaksi dengan mahasiswa dan pelajar SMA di Baoding menjadikan pengalaman ini hangat dan autentik. Bersama mereka, siswa Puhua berlatih wushu, membuat dan menikmati dumpling, menyelami seni tradisional seperti melukis bambu dan cut paper, sekaligus saling berbagi cerita tentang kehidupan di Indonesia dan Tiongkok masa kini. Setiap percakapan dan kerja sama menjadi jembatan nyata yang memperkaya perspektif siswa serta mempererat ikatan persahabatan lintas budaya. Melalui momen ini mereka belajar menghargai perbedaan dan menemukan banyak kesamaan sebagai generasi muda dunia.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Beijing, kota di mana sejarah dan modernitas berpadu secara memukau. Para siswa menyusuri warisan dunia di Kota Terlarang (故宫) dan Kuil Langit (天坛), mengagumi arsitektur modern di Bird’s Nest, serta merasakan keagungan Tembok Besar Tiongkok (万里长城) yang menjadi salah satu situs warisan dunia. Tak kalah berkesan, untuk pertama kalinya banyak siswa merasakan pengalaman belajar bermain ski di lereng Qishan dan menikmati langsung kuliner lokal seperti malatang dan hotpot yang disantap bersama teman dan guru. Kebersamaan dalam perjalanan, di meja makan, hingga di lokasi wisata menjadi ruang tumbuh bagi kemandirian dan kepekaan sosial mereka. Puhua Jiayou!











