Mid-Autumn Festival: Merayakan Keberagaman di Puhua Primary School

Banyumas—Pada 28 September 2026, siswa Puhua Primary School merayakan Mid-Autumn Festival melalui sebuah tema yang mengajak semua orang berkumpul dan berbagi kebahagiaan, “A Celebration of Togetherness: Gathering Hearts, Sharing Joy” (欢聚同庆 — 共享喜悦). Perayaan budaya Tionghoa ini menjadi pintu pembuka untuk mengenal tradisi yang mungkin baru bagi sebagian siswa, sekaligus menemukan nilai-nilai yang akrab bagi kita semua: kebersamaan, kreativitas, rasa ingin tahu, dan saling menghargai.
Musik Membuka Ruang untuk Mengenal Keberagaman

Pintu itu terbuka lewat musik. Ms. Adelita Azzahra, S.Pd., memainkan Guzheng, sementara para siswa mengiringinya dengan angklung dalam lagu 花好月圆. Bunyi dua instrumen dari tradisi berbeda bertemu, saling mengisi, lalu membentuk harmoni. Dari pengalaman sederhana ini, siswa melihat bahwa perbedaan tidak harus memisahkan. Ketika kita mau mendengarkan dan memberi ruang satu sama lain, keberagaman justru dapat menciptakan sesuatu yang indah. Kolaborasi ini juga memberi siswa kesempatan untuk mengenal dan memainkan alat musik dari Tiongkok dan Indonesia.
Setelah menyimak video tentang Mid-Autumn Festival, siswa melanjutkan perjalanan budaya melalui berbagai kegiatan kreatif. Siswa kelas 1–6 menghias tote bag dengan gambar dan warna pilihan mereka, sementara siswa kelas 3–6 mendapat tantangan untuk membuat mading bertema Mooncake Festival secara berkelompok.
Saat Mading Menjadi Jendela Budaya

Di sebuah sudut kelas Puhua Primary School, sebuah bulan purnama perlahan muncul dari potongan kertas kuning. Di bawahnya, lampion merah bergoyang di antara gambar kelinci, aksara Mandarin, dan cerita tentang kue bulan. Ada tangan yang sibuk menggunting, ada yang menulis dalam tiga bahasa, ada yang mengatur letak gambar, dan ada pula yang mengingatkan, “Judulnya harus lebih besar supaya mudah dibaca!”
Mading Mooncake Festival bukan sekadar tugas menghias papan informasi. Setiap kelompok menjadi tim kecil yang harus berdiskusi, membagi peran, mencari informasi, lalu mengubah pengetahuan menjadi karya yang menarik dan mudah dipahami.
Prosesnya dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa itu Mid-Autumn Festival? Kapan dirayakan? Mengapa orang menikmati mooncake? Apa makna bulan purnama? Tradisi apa yang dilakukan saat perayaan? Bagaimana kue bulan dibuat?
Namun, menjawab pertanyaan saja tidak cukup. Informasi utama harus disusun secara manual dalam Bahasa Indonesia, English, dan Mandarin. Anak-anak belajar memilih kata, mengecek ejaan, memahami makna, lalu saling membantu ketika menemukan bagian yang belum mereka kuasai.
Dari Informasi Menjadi Karya Kreatif
Bahan yang tersedia pun berubah menjadi media kreativitas. Ada kelompok yang membuat lampion tiga dimensi, ada yang membentuk bulan dari kertas bertekstur, ada yang menambahkan shufa, kelinci, ornamen Tiongkok, suasana makan bersama, hingga tokoh-tokoh dari video pembelajaran.
Gambar dan dekorasi boleh dicetak sebagai elemen visual, tetapi seluruh isi informasi harus ditulis dan diolah sendiri oleh siswa. Karena itu, setiap mading membawa jejak tangan, gagasan, dan kerja keras anak-anak.
Guru menilai kelengkapan dan ketepatan tujuh informasi utama, penggunaan tiga bahasa, kreativitas serta keaslian karya, kesesuaian elemen tema, kerapian, komposisi tata letak, dan pesan tentang kebersamaan dalam Festival Kue Bulan.
Dengan demikian, siswa belajar bahwa karya yang baik membutuhkan riset, ketelitian, komunikasi, pembagian tugas, dan tanggung jawab, bukan sekadar hasil akhir yang indah.
Belajar Budaya melalui Project-Based Learning

Inilah semangat project-based learning di Puhua. Anak belajar melalui proyek nyata yang menuntut mereka bertanya, mengeksplorasi, mencipta, dan bekerja sama. Mading bukan hanya papan informasi. Ia menjadi bukti bahwa ketika anak diberi ruang, panduan, dan kepercayaan, mereka mampu mengubah sebuah tema budaya menjadi karya penuh warna dan makna.
Proses belajar ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang lebih luas. Setelah kegiatan selesai, siswa bersama-sama merapikan peralatan dan membersihkan area yang digunakan. Mereka juga menikmati kue bulan dan membawa pulang tote bag hasil karya sendiri, sebuah kenangan dari perayaan yang mereka isi dengan tangan, gagasan, dan kebersamaan.
Merayakan Perbedaan di Bawah Bulan yang Sama

Di Puhua, festival budaya bukan hanya tentang mengenal tradisi, tetapi juga tentang membuka wawasan: melihat dunia dari sudut pandang lain, menemukan nilai yang menyatukan, dan merayakan identitas setiap orang dengan hormat.
Sebagai sekolah yang kaya akan keberagaman, Puhua ingin menjadi tempat di mana setiap siswa dapat belajar bersama tanpa kehilangan keunikan dirinya. Dari musik, karya seni, penggunaan tiga bahasa, hingga kerja sama dalam sebuah proyek, siswa belajar bahwa perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan tumbuh bersama.
Sebab, meski datang dari latar budaya yang berbeda, kita hidup di bawah bulan yang sama dan selalu bisa berbagi ruang, cerita, serta kebahagiaan. Puhua Jiayou!





